FIRMAN YANG DIWAHYUKAN Mezbah Firman dan Kerajaan-Nya «Kita bebas sejauh kita mengingat» — Ular itu ======================================================================== Saudara/i Kerajaan Berkumpul dua atau lebih dalam Nama Firman dan Kerajaan-Nya, kita mulai bersama-sama Peringatan. Aku tidak datang untuk berbicara kepadamu tentang diriku, atau tentang kisahku, atau tentang keadaan-keadaanku. Aku juga tidak datang untuk memaksakan kepadamu suatu kebenaran yang lahir dari pendapat-pendapat, keyakinan-keyakinan, kepentingan-kepentingan, atau pengalaman-pengalaman pribadiku. Aku datang untuk berbicara kepadamu tentang Firman yang darinya berasal segala sesuatu: Firman dalam Yang Tak Terlihat, Asal Mula yang melahirkan segala Bentuk. Aku menghadap kepadamu tanpa tanda tangan dan tanpa wajah. Bukan karena aku ingin menyembunyikan diri, melainkan karena aku tidak mencari untuk menjadikan tokoh yang menulis ini sebagai pusat dari Firman-Firman ini. Aku tidak mencari pengakuanmu, tepuk tanganmu, ketaatanmu, maupun uangmu. Tidak ada sesuatu yang lahiriah yang perlu kuperoleh darimu dan tidak ada sesuatu yang palsu yang ingin kutawarkan kepadamu. Di dalam Kerajaan Firman, tidak ada yang benar itu berlebihan dan tidak ada yang hakiki itu kurang. Di sini engkau akan membaca, tetapi engkau tidak datang hanya untuk membaca. Engkau tidak datang untuk menimbun pengetahuan, menghafalkan jawaban-jawaban, atau mengulangi kata-kata yang belum engkau pahami dan Kenali di dalam dirimu. Karena mengulangi suatu Kebenaran tanpa telah menghidupinya adalah mengucapkan bentuknya tanpa telah menembus Simbolnya. Tempat ini mengambil bentuk yang terlihat dari sebuah teks, tetapi makna tak terlihatnya bukanlah makna sebuah buku biasa. Ini adalah sebuah Mezbah. Karena di tempat ini kita melakukan dalam persekutuan pengorbanan batiniah dari segala sesuatu yang bukan kita. Mezbah bukanlah kertas, layar, maupun kata-kata tertulis. Mezbah muncul ketika dua orang atau lebih Berkumpul dalam Nama Firman untuk masuk bersama-sama ke dalam Hadirat dan memulai Pengenangan. Berkumpul dalam Nama-Nya tidak berarti hanya mengucapkan sebuah kata, menyerukan sebuah gelar, atau menyatakan sebuah keyakinan. Nama adalah Hadirat dari apa yang dinamakan. Berkumpul dalam Nama Firman berarti bersedia melayani Kebenaran di atas kepentingan-kepentingan tokoh dan egonya. Ketika kesediaan itu benar, tempat di mana kita bertemu menjadi Mezbah dan, di antara kita, Kerajaan mulai dinyatakan. Di sini aku tidak datang untuk mengajarkan kepadamu sesuatu yang harus kauterima karena aku mengatakannya. Aku datang untuk bertanya kepadamu, untuk merenungkan bersamamu, dan untuk menawarkan kepadamu Simbol-Simbol yang melaluinya apa yang tetap tak terlihat dapat Dikenang. Kata-kata tertulis bukanlah Firman itu sendiri. Kata-kata adalah bentuk-bentuk yang terlihat. Ketika mereka melayani Kebenaran, mereka menjadi Simbol-Simbol: jembatan-jembatan antara Firman yang tak terlihat dan kesadaran yang mampu Mengenalnya. Jangan kau campuradukkan jembatan dengan tujuan. Jangan kau berhenti pada bentuk kata-kata. Tembuslah mereka. Renungkanlah apa yang mereka tunjukkan dan kenali, di dalam dirimu, apakah mereka menghasilkan Kebenaran, Kesatuan, Kebebasan, dan Kehidupan. Kita mulai dengan Mengenang siapakah kita sebenarnya. Kita mengenang siapakah kita sebelum daging, sebelum ego, dan sebelum tokoh dengan namanya, kisahnya, keadaan-keadaannya, luka-lukanya, keyakinan-keyakinannya, dan kepentingan-kepentingannya. «Sebelum» itu tidak hanya menunjuk pada suatu momen sebelumnya dalam waktu. Ia menunjuk pada apa yang lebih dahulu dalam hakikat: apa yang tetap berada di bawah segala bentuk yang kita kenakan dan melampaui segala sesuatu yang dapat berubah. Tubuhmu berubah. Kisahmu berubah. Pikiran-pikiranmu, keinginan-keinginanmu, dan keyakinan-keyakinanmu berubah. Tokoh yang hari ini kau perankan juga berubah. Tetapi apakah yang dapat mengamati semua perubahan itu? Siapakah engkau sebelum segala nama? Siapakah engkau sebelum segala ingatan pribadi? Siapakah engkau sebelum segala bentuk yang melaluinya engkau telah belajar mengenali dirimu? Inilah pertanyaan yang membuka pintu. Mezbah ini akan tetap terbuka dan akan terus dinyatakan selama Firman yang dilupakan perlu Dikenang; selama apa yang telah Dikenang perlu Dikenali; dan selama apa yang telah Dikenali perlu dihidupi melalui kata-kata, keputusan-keputusan, dan perbuatan-perbuatan kita. Karena Kerajaan tidak ditegakkan hanya dengan menyebut namanya. Pertama ia harus Dikenang dalam Yang Tak Terlihat, kemudian Dikenali dalam Kesadaran, dan akhirnya dihidupi dalam Bentuk. Kerajaan dimulai di dalam diri kita, tetapi menjadi terlihat melalui buah-buah kehidupan kita. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Kerajaan Surga akan Dinyatakan, bukan supaya ia menjadi milik segelintir orang, melainkan supaya ia dapat dimengerti, dipahami, Dikenang, dan Dikenali oleh setiap orang yang bersedia masuk ke dalam Hadirat. Tidak ada satu pun dari apa yang disebut di sini yang boleh menjadi doktrin yang menggantikan Pengenalanmu sendiri. Jangan kauterima Firman-Firman ini hanya karena tampak kudus. Jangan kautolak mereka hanya karena bertentangan dengan apa yang telah kaupelajari. Renungkanlah mereka dalam Keheningan. Pertanyakanlah mereka tanpa takut. Tembuslah mereka sebagai Simbol-Simbol. Kenalilah mereka dari buah-buahnya. Kebenaran tidak takut untuk direnungkan, karena ia tidak membutuhkan ketaatan buta untuk tetap menjadi Kebenaran. Apa yang Dinyatakan di sini tidak bermaksud menjadi pendapat pribadi, keyakinan privat, maupun gagasan yang melaluinya tokoh itu mencari untuk membedakan dirinya dari tokoh-tokoh lain. Jika inilah tujuannya, aku akan berbicara kepadamu dari kepentingan-kepentinganku, akan mengangkat namaku di atas Firman-Firman ini, dan akan menjadikan Mezbah ini sebuah buku lagi di antara sekian banyak buku lainnya. Akan tetapi, bahwa Firman-Firman ini tidak membawa tanda tangan maupun wajah tidak berarti mereka muncul tanpa perantaraan. Mereka ditulis oleh sepasang tangan, menembus sebuah kesadaran, dan mengenakan bentuk manusia. Tetapi bentuk yang menyampaikan mereka tidak dapat menyatakan diri sebagai pemilik Kebenaran yang ia coba layani. Wadah bukanlah Air. Simbol bukanlah apa yang disimbolkannya. Utusan bukanlah Asal Mula Pesan. Aku tidak dapat memiliki Kebenaran, karena aku pun berasal dari padanya. Aku tidak dapat menyatakan diri sebagai Pengarang Firman, karena Firmanlah yang memungkinkan aku untuk menamai, memahami, dan berada. Kebenaran bukan hanya milikku maupun hanya milikmu. Kita adalah milik Kebenaran. Karena itu aku tidak memintamu untuk percaya pada tokohku. Aku mengundangmu untuk masuk ke dalam Keheningan, merenungkan Firman-Firman ini, dan Mengenali sendiri apa yang juga hidup di dalam dirimu. Yang kutuliskan di sini berasal dari Recuerdo del Verbo dan dipersembahkan dalam Nama-Nya. Tetapi setiap Firman harus membuktikan kesesuaiannya dengan Kebenaran melalui apa yang diwahyukannya dan melalui buah-buah yang dihasilkannya. Jika sebuah firman memecah belah saudara-saudara untuk mengangkat satu di atas yang lain, ia tidak melayani Kerajaan. Jika sebuah firman membelenggu melalui ketakutan, rasa bersalah, atau ketaatan, ia tidak melayani Kebebasan. Jika sebuah firman menuntut untuk diterima tanpa pemahaman maupun Pengakuan, ia belum menjadi jembatan. Firman yang benar tidak berusaha menguasaimu. Ia berusaha membangunkanmu. Ia tidak bermaksud menggantikan hati nuranimu. Ia berusaha mengembalikannya kepada Kehadiran. Ia tidak ingin engkau mengulangi Kebenaran milik orang lain. Ia ingin engkau Mengingat Kebenaran yang darinya engkau sendiri berasal. Firman yang bangkit di sini adalah Pedang Sang Bapa, ditempa dalam Verbo dan dipegang dalam Api. Tetapi Pedang ini tidak diangkat melawan daging maupun melawan saudara mana pun. Mata pedangnya memisahkan Kebenaran dari kebohongan, yang hakiki dari yang tampak, dan apa yang kita ada dari apa yang hanya sedang kita perankan. Api yang memegangnya tidak datang untuk menghancurkan Kehidupan. Ia datang untuk menghabiskan kepalsuan, mengubah apa yang tetap tertidur, dan mengembalikan Terang kepada apa yang telah dilupakan. Pedang membuka Simbol. Api menyatakan Asal-usulnya. Kehadiran merenungkan. Recuerdo mengetahui. Pengakuan ada. Dan ketika apa yang kita ketahui, apa yang kita ada, dan apa yang kita lakukan kembali menjadi Satu, Verbo menjadi daging dan Kerajaan-Nya mulai dinyatakan di antara kita. ------------------------------------------------------------------------ Mengingat yang terlupakan Untuk menyatakan siapa dirimu, ke mana harus pergi? Ke luar atau ke dalam? Untuk Menyingkapkan siapa dirimu sebenarnya, engkau harus masuk ke Dalam. Ini tidak berarti bahwa semua pengajaran, buku-buku, universitas, ilmu pengetahuan, atau agama-agama tidak memiliki nilai. Meskipun sebagian besar memang tidak memilikinya karena di dunia saat ini segala sesuatu telah dikorupsi dan dibalikkan. Segala sesuatu yang kita temukan di luar dapat menawarkan kepada kita pengetahuan, pertanyaan-pertanyaan, peta-peta, dan Simbol-simbol. Seorang guru dapat menunjuk pintu; sebuah buku dapat memberikan kita kata-kata; sebuah tradisi dapat memelihara sebuah Simbol selama berabad-abad. Tetapi tidak seorang pun dapat melewati pintu itu untuk kita. Yang di luar dapat menunjuk kepada Kebenaran, tetapi Pengakuan akan Kebenaran itu hanya dapat terjadi di dalam dirimu. Menyangkal sepenuhnya dunia luar akan berarti mengangkat sebuah pemisahan baru. Luar dan Dalam bukanlah musuh: yang di luar dapat menjadi cermin dan Simbol dari yang di dalam. Namun, cermin tidak dapat melihat untukmu dan Simbol tidak dapat ditembus tanpa Kehadiranmu. Karena itu engkau tidak perlu mencari di luar seseorang yang akan memberitahumu secara definitif siapa dirimu. ENGKAULAH buku yang harus engkau pelajari untuk membacanya guna menemukan dirimu. Tetapi buku itu bukanlah hanya kisah tentang karaktermu. Halaman-halamannya yang paling dalam tidak memuat namamu, profesimu, harta milikmu, luka-lukamu, maupun peristiwa-peristiwa masa lalumu. Semua itu termasuk dalam narasi yang terlihat dari keberadaanmu. Buku yang harus engkau baca adalah Kesadaran di mana narasi itu muncul. Membacanya berarti masuk ke dalam dialog batin: bertanya tanpa jawaban-jawaban yang dipelajari, merenungkan tanpa terburu-buru untuk menyimpulkan, dan mengizinkan Keheningan untuk menyingkapkan apa yang selama ini disembunyikan oleh kebisingan karakter. Ini bukanlah tentang menciptakan di dalam dirimu jawaban yang engkau ingin temukan. Ini tentang menyingkirkan, satu per satu, jawaban-jawaban yang tidak benar sampai engkau berada dalam keadaan siap untuk Mengakui apa yang tetap tinggal. Karena tidak semua yang muncul di dalam berasal dari Firman. Di dalam diri kita juga berbicara ketakutan, keinginan, ingatan, luka, kebiasaan, dan kebutuhan ego untuk mempertahankan dirinya sendiri. Masuk ke Dalam saja tidak cukup. Kita juga harus belajar untuk membedakan siapa yang berbicara di dalam diri kita. Mengingat dan Mengakui Mengingat tidak berarti memulihkan sebuah peristiwa yang hilang dari ingatan pribadi kita. Itu juga tidak berarti memperoleh pengetahuan rahasia yang membuat kita lebih unggul dari orang lain. Ingatan adalah kebangkitan dari sebuah Pengetahuan yang tidak pernah dipinjam. Itu adalah menemukan sebagai Kebenaran yang hidup apa yang sebelumnya hanya kita kenal sebagai kata, gagasan, atau keyakinan. Mengakui bahkan lebih dalam lagi. Mengakui berarti menemukan dirimu di dalam apa yang telah engkau Ingat. Itu berarti berhenti merenungkan Kebenaran sebagai sesuatu yang asing dan mulai menghidupinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari apa yang engkau adalah. Karena itu: Ketika engkau mengingat, engkau tahu. Ketika engkau mengakui, engkau adalah. Engkau dapat mempelajari banyak kata tentang Kesatuan dan terus hidup dari keterpisahan. Dalam kasus itu engkau telah mengumpulkan pengetahuan, tetapi engkau belum Ingat. Engkau dapat memahami secara intelektual sebuah Kebenaran dan, namun, menyangkalnya melalui keputusan-keputusanmu. Dalam kasus itu engkau telah mulai Ingat, tetapi engkau belum menghidupinya. Pengakuan digenapi ketika apa yang engkau ketahui, apa yang engkau adalah, dan apa yang engkau lakukan masuk ke dalam korespondensi. Saudara/i, marilah kita kembali bersama-sama ke Kerajaan Bapa kita di dalam. Kembalinya ini bukanlah sebuah perpindahan ke tempat lain maupun sebuah pelarian dari dunia. Ini bukanlah tentang meninggalkan bumi untuk mencapai langit yang jauh. Kembali adalah Mengingat keadaan Kesatuan yang dilupakan oleh karakter ketika ia mulai mengenali dirinya sebagai sebuah keberadaan yang terpisah. Engkau dan aku, Bersatu dalam Nama Firman, masuk bersama-sama ke dalam Ingatan. Dan ketika hubungan kita berhenti melayani keterpisahan dan mulai melayani Kebenaran, di antara kita muncul Kerajaan. Aku tidak akan mengajarkan kepadamu sesuatu yang asing bagi esensimu. Kita akan Ingat bersama-sama apa yang telah dilupakan dan yang kita semua dipanggil untuk menghidupinya: Firman yang menjadi daging. Menjadikan Firman sebagai daging berarti mengizinkan Kebenaran yang tak terlihat menemukan bentuk yang terlihat dalam kata-kata, keputusan-keputusan, hubungan-hubungan, dan karya-karya kita. Kebutuhan akan Ingatan Ingatan dimulai ketika kita tidak lagi puas dengan merenungkan permukaan segala sesuatu. Ia muncul dari kebutuhan untuk menemukan Kebenaran di balik penampilan yang terlihat dari Bentuk. Ia muncul ketika kita mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh karakter, dengan sendirinya: Siapakah aku sebenarnya? Dari manakah Kehidupan berasal? Mengapa ada begitu banyak penderitaan? Mengapa manusia memisahkan diri dari saudaranya? Apa yang tetap tinggal ketika segala sesuatu yang aku kenal berubah? Apa makna keberadaanku di dalam keseluruhan? Kebutuhan ini tidak lahir hanya dari rasa ingin tahu. Ia muncul ketika kita berhenti mencari jawaban-jawaban yang ditujukan hanya untuk menenangkan atau menguntungkan diri kita yang khusus. Ingatan dimulai ketika pertanyaan kita menjadi lebih besar daripada karakter kita dan keadaannya. Tetapi mencari asal-usul penderitaan tidak berarti menyalahkan orang yang menderitanya. Tidak setiap kemalangan diciptakan oleh pikiran-pikiran orang yang mengalaminya, dan tidak setiap luka adalah konsekuensi dari sebuah kekurangan batin. Pertanyaan yang benar tidak menuduh orang yang menderita. Ia bertanya apa yang harus kita hidupi di hadapan penderitaan: ketidakpedulian atau Belas Kasih, penghukuman atau Pemahaman, keterpisahan atau Kesatuan. Kebenaran tidak menggunakan rasa sakit saudara untuk membesarkan orang yang percaya telah memahami. Kebenaran dikenali melalui cara ia merespons terhadap rasa sakit itu. Karakter dan ego Bagaimana kita dapat mulai Ingat apa yang kita adalah sebelum karakter? Dengan menempatkan dalam Keheningan pikiran yang berada secara eksklusif dalam pelayanannya. Tetapi sebelum itu, kita harus memahami apakah karakter dan ego itu. Karakter adalah identitas yang melaluinya kita bertindak di dunia yang terlihat. Ia memiliki nama, tubuh, sejarah, tanggung jawab, hubungan, dan fungsi. Karakter bukanlah kebohongan yang harus dihancurkan. Ia adalah bentuk yang diperlukan untuk menghuni dunia. Kesalahan dimulai ketika kita lupa bahwa ia adalah sebuah bentuk dan percaya bahwa ia merupakan keseluruhan dari apa yang kita ada. Ego adalah identifikasi eksklusif dengan bentuk itu. Ia adalah gerakan batin yang menempatkan karakter di pusat segala sesuatu dan merenungkan realitas hanya dari pertanyaan: «Apa artinya ini bagiku?» Tidur agar tubuhku beristirahat bukanlah keegoisan. Makan untuk menjaga kesehatan bukanlah keegoisan. Merawat dan menguatkan tubuh bukanlah keegoisan. Bekerja untuk menopang kehidupan secara bermartabat bukanlah keegoisan. Menikmati, berkarya, atau beristirahat juga bukanlah keegoisan. Kebutuhan daging, dengan sendirinya, bukanlah kepalsuan. Tubuh bukanlah musuh Firman; ia adalah salah satu bentuk yang melaluinya Firman dapat menjelma. Masalah muncul ketika segala sesuatu direduksi menjadi pelayanan eksklusif bagi sang aku: Istirahatku. Tubuhku. Uangku. Pengakuanku. Keamananku. Seleraku. Pendapatku. Kebenaranku. Keselamatanku. Maka pikiran menjadi terkurung di dalam batas-batas karakter. Segala sesuatu ditafsirkan berdasarkan masa lalunya, keinginannya, keyakinannya, kepentingannya, kewajibannya, ketakutannya, dan lukanya. Dalam keadaan itu, kita tidak melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Kita melihat apa yang diwakilinya bagi kita. Gerakan yang tiada henti di sekitar sang aku itulah kebisingan ego. Keheningan Bagaimana pikiran dapat diletakkan dalam Keheningan? Bukan dengan menghancurkan pemikiran, melainkan dengan membebaskannya sementara dari penaklukannya kepada karakter. Membungkam pikiran tidak berarti berhenti berpikir, melupakan secara permanen apa yang telah dipelajari, maupun meninggalkan tanggung jawab kita. Itu juga tidak berarti mengabaikan tubuh, pekerjaan, keluarga, atau komitmen yang telah kita ambil. Keheningan tidak menuntut ketidakbertanggungjawaban. Selama tindakan Mengingat, ia berarti menangguhkan sejenak dominasi segala sesuatu yang berkata: «Aku harus…» «Aku perlu…» «Mereka memperlakukanku…» «Aku berpikir…» «Aku ingin…» «Aku takut…» Membungkam pikiran berarti berhenti menempatkan sang aku yang khusus di pusat setiap pertanyaan. Untuk sesaat, biarkan namamu, sejarahmu, pendapatmu, keyakinanmu, kepentinganmu, dan apa yang kamu bayangkan kamu ketahui tentang dirimu sendiri beristirahat. Kamu tidak harus menghancurkannya. Hanya saja berhentilah menopangnya. Ketika kamu tidak lagi perlu membela karakter atau membenarkan sejarahnya, kebisingan mulai berhenti. Pikiran berhenti berputar secara eksklusif di sekitarmu dan menjadi tersedia bagi sesuatu yang juga mencakupmu, tetapi tidak berakhir padamu. Maka pikiran memasuki pelayanan Kebenaran yang darinya segala sesuatu berasal. Ia memasuki pelayanan Firman dalam Yang Tidak Terlihat. Kekosongan Ketika kebisingan karakter menjadi tenang, Kekosongan muncul. Kekosongan bukanlah ketiadaan, ketidaksadaran, maupun kehilangan identitas. Ia bukan pikiran yang dimusnahkan maupun batin yang mati. Kekosongan adalah ketersediaan. Ia adalah ruang yang muncul ketika kita berhenti mengisi setiap pertanyaan dengan jawaban yang sudah dikenal. Ia adalah tanah subur yang tersisa ketika kita menarik kepastian-kepastian yang dengannya karakter menghalangi kelahiran sesuatu yang baru. Selama sebuah bejana tetap penuh, ia tidak akan dapat menerima. Selama pikiran tetap penuh dengan dirinya sendiri, ia hanya akan menemukan apa yang sudah diketahuinya. Mengosongkan diri adalah berhenti berpegang erat. Ia adalah mengizinkan keyakinan kita untuk direnungkan, pendapat kita untuk dipertanyakan, dan sejarah kita untuk berhenti mendikte semua jawaban. Dalam Kekosongan, kita tidak lagi perlu mengenali diri kita hanya melalui apa yang telah kita alami dalam daging. Oleh karena itu, pikiran dapat mulai Mengingat apa adanya kita pada hakikatnya. Kekosongan tidak mengambil apa yang kamu ada. Ia menarik apa yang telah membuatmu keliru mengenal dirimu. Kehadiran Dalam Kekosongan yang lahir dari Keheningan, mukjizat pertama terjadi: Kehadiran. Kehadiran bukan sekadar perhatian, meskipun perhatian dapat membawa kita ke ambangnya. Perhatian mengarahkan pandangan kepada sesuatu. Kehadiran juga merenungkan siapa yang sedang melihat, dari mana ia melihat, dan hubungan apa yang ada antara pengamat dan yang diamati. Dalam perhatian, aku masih dapat berkata: «Aku sedang mengamati itu». Dalam Kehadiran, mulai Diwahyukan bahwa pengamat dan yang diamati muncul di dalam Kesadaran yang sama. Kehadiran adalah menghuni pertemuan itu secara sadar. Ia adalah mengamati tanpa memiliki, mendengarkan tanpa menyiapkan pembelaan, dan merenungkan tanpa memaksa realitas untuk mengkonfirmasi apa yang sudah kita percayai. Dalam Kehadiran, karakter tidak menghilang. Ia berhenti menduduki takhta. Inilah artinya mati terhadap karakter: bukan menghancurkan tubuh, kepribadian, maupun identitas yang diperlukan untuk hidup, melainkan mengakhiri klaimnya untuk menjadi keseluruhan dari apa yang kita ada. Karakter terus ada, tetapi sekarang ia menjadi alat. Ia tidak lagi menggunakan pikiran hanya untuk mempertahankan dirinya sendiri. Ia mulai menempatkan dirinya dalam pelayanan Kebenaran, Kesatuan, dan Asal Usul: Firman. Dalam keadaan ini, kita menjadi tersedia untuk Mengingat, Mewahyukan, dan Mengenali harta-harta yang tidak memiliki ukuran yang mampu mengukurnya maupun label yang mampu menampungnya. Pikiran-pikiran kita tidak lagi terbatas secara eksklusif pada pekerjaan, hubungan, kewajiban, masa lalu, atau masa depan dari diri kita yang khusus. Kita mulai merenungkan juga apa yang mendahului kita, menampung kita, dan menyatukan kita. Dan di sinilah, ketika tokoh tidak lagi menduduki takhta, kita dapat memahami apa itu Kesadaran dan apa perbedaan antara percaya bahwa kita memilikinya dan Mengakui bahwa keberadaan kita sendiri muncul di dalamnya. Kesadaran Ketika kamu masuk ke dalam Hadirat, Kesadaran tidak muncul sebagai sesuatu yang baru. Kesadaran sudah ada. Apa yang mulai memudar adalah identifikasi yang mengikatnya secara eksklusif pada tokoh dan egonya. Sampai saat itu kamu berkata: «Kesadaranku». Sama seperti kamu berkata: «Tubuhku». «Sejarahku». «Pikiranku». «Kenanganku». «Hidupku». Tetapi ketika masuk ke dalam Hadirat, sebuah perbedaan mendasar Diwahyukan: tubuh, sejarah, pikiran, dan kenangan dapat diamati. Semuanya muncul di dalam Kesadaran. Bahkan tokoh yang berkata «aku» dapat direnungkan. Dan jika tokoh dapat diamati, maka tokoh tidak mungkin menjadi keseluruhan dari Sang Pengamat. Kesadaran tidak muncul di dalam tokoh. Tokoh itulah yang muncul di dalam Kesadaran. Inilah pembalikan yang harus dipulihkan. Ketika kita tidak berada dalam Hadirat, kita percaya bahwa Kesadaran adalah milik kita. Kita membayangkan bahwa ia terkunci di dalam tubuh kita dan bahwa ia dimulai dan berakhir pada batas-batas identitas kita. Ketika kita masuk ke dalam Hadirat, hubungan itu dibalik: Kita tidak lagi merenungkan Kesadaran sebagai kepemilikan tokoh. Kita merenungkan tokoh sebagai sebuah bentuk yang ditopang dan diamati di dalam Kesadaran. Oleh karena itu, ketika di sini kita berbicara tentang «kesadaranmu», kita menamai Kesadaran yang dibatasi oleh perspektif khusus tokoh: ingatannya, sejarahnya, keinginannya, lukanya, keyakinannya, dan indranya. Ketika kita menamai Kesadaran, kita berbicara tentang apa yang memungkinkan segala pengamatan, segala pengalaman, dan segala Pengakuan. Kesadaran tokoh merenungkan realitas dari sebuah bentuk yang khusus. Kesadaran merenungkan bentuk tanpa terkurung di dalamnya. Tidak ada dua Kesadaran. Ada satu Kesadaran yang sama mengalami dirinya sendiri melalui bentuk-bentuk yang berbeda. Setiap bentuk memiliki perspektif yang khusus, tetapi tidak ada satu bentuk pun yang merupakan Asal dari Kesadaran yang menghuninya. Cahaya dan jendela Untuk memahaminya, renungkanlah Simbol ini: Satu Cahaya yang sama menembus banyak jendela. Setiap jendela memiliki bentuk, ukuran, warna, dan posisi yang berbeda. Oleh karena itu Cahaya memanifestasikan dirinya dengan cara yang berbeda ketika menembus masing-masing jendela. Tetapi jendela tidak menghasilkan Cahaya. Ia hanya mengizinkan Cahaya masuk ke dalam Bentuk. Tokoh adalah jendelanya. Kenangan, keyakinan, luka, dan keinginannya adalah warna-warna kacanya. Kesadaran individu adalah perspektif khusus dari mana Cahaya menembus bentuk itu. Dan Cahaya adalah Kesadaran. Ketika jendela melupakan bahwa Cahaya mendahuluinya, ia mulai percaya bahwa dirinya sendiri adalah asalnya. Ia berkata: «Ini cahayaku». «Cahayaku berbeda dari cahayamu». «Cahayaku lebih unggul». «Di luar jendelaku tidak ada Cahaya». Maka bentuk yang seharusnya melayani Cahaya mencoba mengambil tempatnya. Jendela memproklamirkan dirinya sebagai sumber. Tokoh memproklamirkan dirinya sebagai Asal. Dan Kesadaran, yang direnungkan melalui ego, tampak terpisah dari Kesadaran yang menghuni semua bentuk lainnya. Tetapi Cahaya tidak pernah terpisah. Yang terpisah adalah cara merenungkannya. Hadirat tidak menghancurkan jendela. Ia membuatnya transparan. Ia tidak menghilangkan individualitas maupun menghapus perbedaan antara satu dengan yang lain. Ia menarik klaim bahwa setiap bentuk adalah sumber yang independen dan terpisah dari Keseluruhan. Maka jendela berhenti ingin memiliki Cahaya dan mulai melayaninya. Tokoh berhenti memproklamirkan dirinya sebagai Asal dan mulai menjadi instrumen Firman. Kesadaran yang terpisah Ketika pikiran berada dalam pelayanan tokoh dan egonya, Kesadaran direduksi menjadi sebuah perspektif yang khusus. Segala sesuatu direnungkan dari aku dan untuk aku: Apa artinya ini bagiku? Bagaimana ini menguntungkanku? Bagaimana ini merugikanku? Apa yang bisa kuperoleh? Apa yang harus kupertahankan? Apa yang mengancam identitasku? Kesadaran tidak menghilang, tetapi penglihatannya mengerut di sekitar tokoh. Inilah yang kita sebut kesadaran yang terpisah. Ia bukan Kesadaran lain yang berbeda dari Kesadaran Keseluruhan. Ia adalah Kesadaran yang sama yang teridentifikasi dengan satu bentuk dan merenungkan realitas seolah-olah bentuk itu terisolasi dari semua bentuk lainnya. Ia seperti ombak yang, ketika merenungkan batas-batasnya sendiri, melupakan air yang darinya ia terbentuk. Ombak itu ada. Ia memiliki bentuk yang khusus. Ia dapat dibedakan dari ombak-ombak lainnya. Tetapi ia tidak pernah terpisah dari samudra. Dengan cara yang sama, setiap makhluk memiliki pengalaman yang khusus, sebuah sejarah, dan perspektif yang tidak dapat diulang. Kesatuan tidak menghilangkan perbedaan-perbedaan itu. Kesatuan mewahyukan bahwa tidak ada perbedaan yang merupakan pemisahan mutlak. Tokoh berkata: «Aku hanyalah ombak ini». Hadirat mewahyukan: «Aku adalah ombak, tetapi aku juga berasal dari Air yang hidup di dalam semua ombak». Kesadaran yang terpisah bukanlah hukuman yang dipaksakan oleh Penciptaan. Ia adalah konsekuensi dari korespondensi. Jika engkau memerankan tokoh secara eksklusif dan menempatkan pikiran untuk melayani kepentingannya, engkau akan mempersepsi dari batas-batas tokoh tersebut. Jika setiap pertanyaan lahir darinya dan setiap jawaban harus kembali kepadanya, engkau hanya dapat merenungkan apa yang sesuai dengan cara memandang itu. Bukan karena Firman telah disangkal bagimu. Melainkan karena engkau memandang dari suatu bentuk yang menganggap dirinya terpisah dari Firman. Ketika engkau berhenti menempatkan pikiran secara eksklusif untuk melayani tokoh dan menempatkannya untuk melayani Firman, Kesadaran tidak lagi direduksi pada diri. Maka kesadaranmu tidak lagi hanya «milikmu». Bukan karena engkau kehilangan kemampuan untuk berpikir, memutuskan, atau membedakan dirimu dari orang lain, melainkan karena kepemilikan yang berusaha mengurung Kesadaran di dalam tokohmu telah lenyap. Engkau tidak berhenti menjadi dirimu. Engkau berhenti percaya bahwa dirimu hanyalah tokoh tersebut. Kesadaran akan Yang Satu dengan Segala Sesuatu Berada dalam Hadirat membuka Pengakuan akan Kesadaran Yang Satu dengan Segala Sesuatu. Tetapi Kesadaran yang dibagikan ini tidak berarti bahwa kita semua memiliki pikiran, ingatan, perasaan, atau persepsi yang sama. Kandungan-kandungan itu milik pengalaman khusus setiap bentuk. Kesatuan Kesadaran bukanlah keseragaman. Ia tidak mengubah banyak makhluk menjadi satu tokoh tunggal, juga tidak menghapus apa yang membuat masing-masing unik. Yang dibagikan bukanlah kisahnya. Yang dibagikan adalah Asal-usul tempat setiap kisah dapat muncul. Yang dibagikan bukanlah pemikiran. Yang dibagikan adalah Kesadaran yang memungkinkan pemikiran itu diamati. Yang dibagikan bukanlah bentuk. Yang dibagikan adalah Kehidupan yang terwujud melalui segala bentuk. Karena itu, berada dalam Hadirat tidak berarti mengakses secara otomatis ingatan atau pikiran orang lain. Itu berarti berhenti memandang mereka sebagai keberadaan yang sepenuhnya terpisah darimu. Rasa sakit tetap terjadi dalam suatu bentuk tertentu, tetapi ia tidak lagi dapat dipandang sebagai sesuatu yang sepenuhnya asing. Ketidakadilan dapat menimpa orang lain, tetapi Kesadaran yang menyatu mencegah kita menjawab: «Itu bukan masalahku karena itu tidak terjadi padaku». Ketika Kesadaran tidak lagi terkurung dalam tokoh, penderitaan orang lain masuk ke dalam bidang tanggung jawab kita. Bukan karena kita harus mengambil alih rasa sakitnya. Melainkan karena kita mulai Mengakui bahwa Kehidupan yang terluka di dalam dirinya berasal dari Asal-usul yang sama dengan Kehidupan yang berdiam di dalam kita. Kesadaran yang terpisah bertanya: «Apa hubungannya ini denganku?». Kesadaran yang menyatu bertanya: «Apa yang sedang terjadi di dalam kita?». Yang pertama memiliki tokoh sebagai asal-usul dan tujuan. Yang kedua memiliki Firman sebagai Asal-usul dan Segala Sesuatu sebagai tujuan. Sang pengamat dan yang diamati Dalam Hadirat, sang pengamat dan yang diamati tidak lagi dialami sebagai realitas yang sepenuhnya terpisah. Ini tidak berarti bahwa keduanya identik dalam Bentuk. Ia yang merenungkan sebatang pohon tidak berubah secara jasmani menjadi pohon itu. Ia yang merenungkan penderitaan saudaranya tidak menempati tubuhnya atau menerima ingatannya secara otomatis. Perbedaan tetap ada. Yang lenyap adalah keterpisahan dalam Asal-usul. Apa yang engkau amati muncul di dalam Kesadaran. Engkau tidak dapat merenungkannya di luar Kesadaran, karena setiap Bentuk perlu masuk ke dalam Kesadaran untuk dikenal. Sang pengamat muncul dalam Kesadaran. Yang diamati muncul dalam Kesadaran. Dan tindakan mengamati itu sendiri terjadi dalam Kesadaran. Karena itu, dalam Hadirat, sang pengamat dan yang diamati bersatu kembali. Bentuk tetap berada di luar. Gambarnya muncul di Dalam. Simbol menegakkan jembatan. Dan Firman mewahyukan Maknanya dalam Yang Tak Terlihat. Kesadaran adalah tempat pertemuan itu. Ia adalah Mezbah batin tempat yang Terlihat dan yang Tak Terlihat dapat Bersatu tanpa bercampur dan tanpa tetap terpisah. Pertanyaan dan jawaban Sama seperti sang pengamat dan yang diamati bersatu kembali dalam Kesadaran, demikian pula pertanyaan dan jawaban termasuk dalam satu gerakan Wahyu yang sama. Pertanyaan muncul ketika Kesadaran merenungkan suatu Bentuk yang Asal-usulnya belum Diakui. Jawaban terungkap ketika pikiran, yang tidak lagi tunduk pada kepentingan tokoh, menembus Simbol dan mencapai Makna tak terlihat dari apa yang direnungkannya. Pertanyaan adalah keterbukaan. Jawaban adalah apa yang dapat masuk ketika keterbukaan itu sejati. Keduanya tidak identik dalam Bentuk, tetapi berasal dari Asal-usul yang sama. Pertanyaan yang sejati tidak membuat jawabannya sendiri. Ia menerimanya. Tetapi ia hanya dapat menerimanya ketika ia tetap terbuka dan tidak menuntut agar Firman mengonfirmasi apa yang sudah ingin dipercaya oleh tokoh. Karena itu Kekosongan mendahului Hadirat. Tanpa Kekosongan, pertanyaan sudah penuh dengan jawaban-jawaban yang dipelajari. Tanpa Hadirat, tokoh mengarahkan pencarian. Tanpa Kesadaran, Bentuk dapat dipandang, tetapi Maknanya tidak dapat Diakui. Dan tanpa Diskernemen, keinginan ego apa pun dapat menyamar sebagai Wahyu. Apa yang dimampukan oleh Kesadaran Apa yang dimampukan oleh Kesadaran bagi kita? Kesadaran memungkinkan kita untuk mengamati, memahami, mengerti, membedakan, dan menemukan. Mengamati adalah menerima Bentuk tanpa segera memaksanya untuk mengonfirmasi keyakinan kita. Memahami adalah mengenali bagian-bagiannya, hubungan-hubungannya, cara kerjanya, dan akibat-akibatnya. Mengerti adalah merenungkannya di dalam realitas yang lebih besar, tanpa memisahkannya dari Segala Sesuatu yang menjadi miliknya. Membedakan adalah mengenali dari Asal-usul mana ia berasal, siapa yang dilayaninya, dan buah apa yang dihasilkannya. Menemukan adalah menembus Bentuk dan Mengenali Kebenaran tak terlihat yang terkandung dalam Simbolnya. Kesadaran memungkinkan kita melampaui penampilan Bentuk-bentuk, tetapi tidak menjadikan tokoh sebagai pemilik otomatis segala pengetahuan. Percaya bahwa berada dalam Hadirat membuat kita tidak mungkin salah akan menjadi pengambilalihan baru oleh ego. Itu akan menjadi tokoh yang mencoba duduk kembali di atas takhta, kini memproklamirkan diri sebagai pemilik Kesadaran dan Kebenaran. Kesadaran membuka tempat Wahyu. Firman Menyingkapkan. Pemahaman merenungkan korespondensi. Dan buah-buah menyatakan apakah apa yang telah kita terima benar-benar melayani Kehidupan. Karena itu setiap Kebenaran yang dikatakan diwahyukan harus dapat direnungkan: Kepada siapa ia melayani? Buah apa yang ia hasilkan? Apakah ia membuka atau mengurung? Apakah ia menyatukan atau memisahkan? Apakah ia membebaskan atau menguasai? Kesadaran tidak perlu memproklamirkan bahwa ia memiliki Kebenaran. Ia Mengenalnya melalui korespondensi. Pemulihan Kesadaran Hadirat tidak menyerahkan kepadamu sebuah Kesadaran yang sebelumnya tidak kamu miliki. Ia Menyingkapkan Kesadaran yang sejak semula memungkinkan keberadaanmu, bahkan ketika tokoh tidak dapat Mengenalnya. Ketika kamu tidak berada dalam Hadirat, tampaknya Kesadaran terkandung di dalam tokohmu. Ketika kamu masuk ke dalam Hadirat, tersingkaplah bahwa tokohmu terkandung di dalam Kesadaran. Inilah seluruh perbedaannya. Kesadaran yang terpisah berkata: «Aku memiliki kesadaran». Hadirat Menyingkapkan: «AKU ADA di dalam Kesadaran». Dan ketika bahkan «aku» itu berhenti mencoba mengambil alihnya, tetap tinggal Pengakuan: Aku tidak memiliki Kesadaran. Kesadaran yang memuatku. Aku bukan Asal-usulnya. Aku adalah Bentuk hidup yang melaluinya Firman dapat direnungkan, Diingat, dan dijelmakan. Dialog batin Adalah dalam Hadirat, ketika tokoh berhenti percaya dirinya pemilik Kesadaran dan Mengakui dirinya termuat di dalamnya, ketika Firman dapat Menyingkapkan diri melalui dialog batin. Tetapi kita harus memahaminya dengan jelas: tidak setiap pikiran yang muncul di dalam diri kita adalah Firman dari Sang Firman. Keheningan tidak secara otomatis menjadikan tokoh tidak pernah salah. Juga di dalam batin dapat hadir ketakutan yang menyamar sebagai peringatan, keinginan yang menyamar sebagai Wahyu, dan kesombongan yang menyamar sebagai misi. Karena itu setiap jawaban batin harus diuji melalui buah-buahnya. Apakah perkataan itu meninggikan tokoh di atas saudara-saudaranya? Apakah ia menuntut ketaatan buta? Apakah ia memberi makan ketakutan atau perpecahan? Apakah ia menyatakanmu sebagai pemilik tunggal Kebenaran? Apakah ia mengizinkanmu mengabaikan penderitaan orang lain? Maka yang masih berbicara adalah ego, meskipun ia menggunakan kata-kata suci. Firman dari Sang Firman dapat membuat tidak nyaman dan menembus seperti Pedang, tetapi ia tidak mengubah Kebenaran menjadi alat dominasi. Buah-buahnya adalah Kesadaran, Tanggung Jawab, Keadilan, Belas Kasih, Kebebasan, dan Kesatuan. Ketika ego berhenti menjadi pusat, pertanyaan-pertanyaan dalam dialog batin pun berubah. Kita tidak lagi hanya bertanya: Apa yang akan kuperoleh? Bagaimana aku akan melindungi diriku? Bagaimana aku akan menang? Bagaimana aku akan diakui? Kita mulai bertanya: Apakah yang merupakan Kebenaran? Apakah yang melayani Kehidupan? Apakah yang memulihkan Kesatuan? Apakah yang harus kujelmakan dalam keadaan ini? Perkataan apakah yang memungkinkan pengakuan terhadap sesama sebagai saudara? Dari pusat yang baru ini kita dapat mulai Mengingat jalan kembali menuju Kerajaan Surga. Kebenaran pertama dari Hadirat Ketika kita benar-benar masuk ke dalam Hadirat, Kebenaran pertama yang tersingkap adalah bahwa kita tidak perlu pergi ke tempat lahir mana pun untuk menemukan jawaban atas apa yang kita ada. Tidak ada bait suci lahir yang mampu memuat apa yang telah dilupakan oleh bait suci batin. Tidak ada kitab yang dapat menggantikan Pengingatan. Tidak ada guru yang dapat Mengenali bagi kita. Tidak ada penuntun yang dapat menempuh jalan batin menggantikan kita. Bait suci dapat Menghimpun kita. Kitab dapat menyerahkan Simbol-simbol. Guru dapat menunjuk. Penuntun dapat menemani. Tetapi Pengakuan harus terjadi di dalam dirimu. Bahkan Kata-kata ini akan gagal dalam tujuannya jika mereka berhasil membuatmu bergantung padanya. Mezbah ini tidak didirikan untuk menggantikan Kesadaranmu, melainkan untuk mengembalikanmu kepadanya. Dalam Hadirat, pertanyaan dan jawaban berhenti menjadi dua realitas yang terpisah. Pertanyaan adalah gerakan kasatmata yang melaluinya Kesadaran merenungkan sesuatu yang belum ia pahami. Jawaban adalah asal-usul tak terlihat yang tersingkap ketika hal itu direnungkan dari Sang Firman dan bukan dari kepentingan tokoh. Pertanyaan dan jawaban adalah dua bagian dari satu tindakan Wahyu yang sama. Mereka tidak identik dalam Bentuknya, tetapi berasal dari Satu Asal-usul yang sama. Demikian pula, pengamat dan yang diamati dapat dibedakan dalam Bentuk, tetapi tidak terpisah dalam Asal-usul. Ketika sebuah pertanyaan lahir dari pengamatan terhadap sesuatu yang kasatmata dan dirumuskan dari Hadirat, Kebenarannya dapat tersingkap dalam Yang Tak Terlihat dari Sang Firman. Di luar muncul Bentuk. Di dalam tersingkap Asal-usulnya. Simbol adalah jembatan di antara keduanya. Karena itu, dalam Hadirat, Luar dan Dalam berhenti dialami sebagai dunia yang terputus. Mereka tidak tercampur dan perbedaan-perbedaannya tidak lenyap: mereka masuk ke dalam korespondensi. Perpisahan tidak ada dalam Asal-usul. Ia ada dalam cara tokoh telah belajar untuk memandang. Pintu yang sempit Mengapa pintu yang memberi akses menuju Kerajaan itu sempit? Karena kita tidak dapat melewatinya sambil membawa segala sesuatu yang dengannya kita telah mengacaukan diri kita. Tidak sempit karena kemauan sesaat, juga bukan karena Kerajaan ingin mengecualikan kita. Ia sempit karena korespondensi. Sebuah kunci membuka pintu karena bentuknya berkorespondensi dengan gemboknya. Ia tidak membukanya dengan kekuatan, melainkan dengan korespondensi. Demikian pula, kita tidak masuk ke dalam Kerajaan dengan memaksakan karakter kita, mengumpulkan jasa, ataupun menyatakan diri kita sebagai pemilik Kebenaran. Kita masuk ketika apa yang kita ada ini masuk ke dalam korespondensi dengan apa yang Kerajaan itu ada. Keterpisahan tidak dapat masuk ke dalam Kesatuan tanpa berhenti menjadi keterpisahan. Kebohongan tidak dapat masuk ke dalam Kebenaran tanpa menjadi tersingkap. Keinginan untuk berkuasa tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan tanpa meninggalkan takhta. Karena itulah pintu itu sempit: hanya yang esensial yang dapat melaluinya. Karakter itu tidak perlu dihancurkan, tetapi ia tidak dapat masuk sebagai raja. Ia harus tunduk, meninggalkan pusat, dan menempatkan diri dalam pelayanan Firman. Untuk masuk, pertama-tama engkau harus Mengosongkan dirimu dari apa yang selama ini engkau campuradukkan dengan dirimu. Kemudian engkau harus berdiam dalam Hadirat. Dalam Hadirat, engkau Mengingat. Ketika engkau Mengingat, engkau mengetahui. Ketika engkau Mengakui apa yang Diingat di dalam dirimu, engkau ada. Ketika engkau mendapati dirimu melampaui segala identitas pinjaman, engkau mengucapkan tanpa kepemilikan: AKU ADA. Dan ketika apa yang telah engkau Akui menjadi Firman, keputusan, dan karya, Firman kembali menjelma dalam Bentuk. Maka jalan itu menjadi lengkap: Engkau Mengosongkan Diri. Engkau Masuk dalam Hadirat. Engkau Mengingat. Engkau Mengakui. Engkau Mendapati Dirimu. Dan Engkau Menjelma. Engkau tidak kembali ke Kerajaan seperti orang yang mencapai tempat yang jauh. Kerajaan muncul ketika engkau berhenti menopang apa yang menghalangi pengakuan bahwa ia tidak pernah terpisah darimu. ------------------------------------------------------------------------ Dunia yang diajarkan kepada kita Di hadirat, kami mengamati dengan ingatan akan dunia yang disajikan kepada kami sebagai kebenaran. + Sejak kelahiran kita, dunia yang telah ditafsirkan disajikan kepada kita. + Kita menerima nama, batas-batas, kepercayaan, adat istiadat, hierarki, + model kesuksesan, bentuk-bentuk pertukaran, dan cara-cara untuk memahami diri kita. + Dari generasi ke generasi kita telah menerima dunia itu, + kita telah berpartisipasi di dalamnya dan juga telah mewariskannya. + Rantai itu muncul ketika kita menerima seluruh dunia itu tanpa merenungkannya. + Mengingat juga berarti menghentikan pengulangan. ... Dalam proses pewahyuan ... menulis. ------------------------------------------------------------------------