Saudara dan Saudari Kerajaan: Panggilan
Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar; siapa yang haus, hendaklah ia datang.
Saudara, saudari Kerajaan:
Berkumpul dua atau lebih dalam Nama Firman dan Kerajaan-Nya, kita mulai bersama Perenungan.
Aku tidak datang untuk berbicara kepadamu tentang diriku, tentang sejarahku, atau tentang keadaanku. Aku juga tidak datang untuk memaksakan kepadamu suatu kebenaran yang lahir dari pendapat, kepercayaan, kepentingan, atau pengalaman pribadiku.
Aku datang untuk berbicara kepadamu tentang Kebenaran yang darinya segala sesuatu berasal: Firman dalam Yang Tak Terlihat, Sang Asal yang melahirkan segala Bentuk tanpa terkurung di dalam satu pun.
Aku hadir di hadapanmu tanpa tanda tangan dan tanpa wajah. Bukan karena aku ingin menyembunyikan diri, melainkan karena aku tidak berusaha menjadikan tokoh yang menulis ini sebagai pusat dari Firman-Firman ini. Aku tidak mencari pengakuanmu, tepuk tanganmu, ketaatanmu, atau uangmu. Tidak ada hal lahiriah yang perlu kuperoleh darimu, dan tidak ada hal palsu yang ingin kutawarkan kepadamu.
Di dalam Kerajaan Firman, tidak ada yang benar-benar berlebihan dan tidak ada yang hakiki yang kurang.
Di sini engkau akan membaca, tetapi engkau tidak datang hanya untuk membaca.
Engkau tidak datang untuk menimbun pengetahuan, menghafal jawaban, atau mengulangi kata-kata yang belum engkau pahami dan Akui. Mengulangi suatu Kebenaran tanpa menghidupinya berarti mempertahankan bunyinya tanpa menembus Simbolnya.
Tempat ini mengambil Bentuk yang terlihat sebagai sebuah teks, tetapi maknanya bukanlah makna sebuah buku biasa.
Ini adalah Mezbah.
Mezbah bukanlah kertas, layar, atau kata-kata. Mezbah muncul ketika kita Berkumpul untuk menempatkan Kebenaran di atas kepentingan tokoh; ketika kita menyerahkan kepada Api apa yang menuntut untuk tetap tersembunyi; ketika suara orang yang terluka dapat didengar; ketika tidak ada bentuk, nama, atau utusan yang menduduki tempat Sang Sumber.
Sebelum Babel dihakimi, komunitas-komunitas yang mendengarkan dipanggil untuk menghadap. Sebelum memandang Binatang di luar, setiap Mezbah harus merenungkan perbuatannya sendiri. Juga mezbah ini.
Karena itu, jangan terima Firman-Firman ini karena tampak suci. Jangan tolak karena bertentangan dengan apa yang telah dipelajari. Renungkanlah. Pertanyakanlah. Tembusilah sebagai Simbol-Simbol. Periksalah Firman apa yang mereka wujudkan, siapa yang mereka layani, dan buah apa yang mereka hasilkan.
Jika suatu kata meninggikan utusan di atas saudara-saudaranya, maka ego yang berbicara.
Jika menuntut ketaatan buta, ia melayani Binatang meskipun mengucapkan Nama Anak Domba.
Jika memupuk ketakutan, perpecahan, atau penghinaan, ia tidak menuntun kepada Kerajaan.
Jika membiarkan penderitaan orang lain diabaikan, ia belum menembus Mezbah.
Firman yang benar tidak berusaha menguasaimu. Ia berusaha membangunkanmu.
Ia tidak menggantikan Hati Nuranimu. Ia mengembalikannya kepada Kehadiran.
Ia tidak mendirikan kerajaan di sekitar orang yang berbicara. Ia membuka pintu Kerajaan yang tidak dapat dimiliki seorang pun secara terpisah.
Utusan bukanlah Asal dari Pesan.
Wadah bukanlah Air.
Kata bukanlah Firman.
Simbol bukanlah apa yang disimbolkannya.
Namun, ketika kata melayani Kebenaran, ia menjadi Simbol: jembatan antara Yang Tak Terlihat dan Hati Nurani yang mampu Mengakuinya.
Jangan berhenti di jembatan. Tembusilah.
Ambang pembacaan Sebelum melanjutkan, kita harus menertibkan bahasa Mezbah ini agar tidak ada Firman yang dijadikan berhala karena kurangnya ketepatan.
Karya ini menerima arsitektur simbolis yang terpelihara dalam kesaksian yang dikenal sebagai Wahyu atau Revelasi: tujuh komunitas, satu Takhta, satu Kitab, tujuh Meterai, tujuh Trompet, tujuh Cawan, Anak Domba, Naga, Binatang-Binatang, Babel, dan Kota. Ia tidak menerimanya untuk mengulanginya sebagai otoritas lahiriah, juga tidak untuk menyembunyikan dari mana gambaran-gambarannya berasal. Ia menerimanya sebagai tubuh Simbol-Simbol yang harus ditembus, dibedakan, dan dihakimi oleh Bentuk Anak Domba dan oleh buah-buahnya.
Ketika kita menggambarkan suatu peristiwa dari dunia bersama, pernyataan itu harus mempertanggungjawabkan diri di hadapan pengamatan dan bukti yang dapat diketahui orang lain.
Ketika kita menembus suatu Simbol, kita menawarkan suatu Korespondensi: sebuah pembacaan tentang hubungan Batin dan lahiriah yang Bentuknya memungkinkan untuk diakui.
Ketika kita mewartakan suatu Kebenaran yang Diingat, kita memberi kesaksian tentang suatu Pengakuan. Pewartaan itu tidak menjadikan tokoh itu tak pernah salah, juga tidak mengizinkannya menyebut Wahyu setiap interpretasi yang ingin dipertahankannya.
Karena itu, kita tidak akan mengacaukan kedalaman-kedalaman ini:
PERISTIWA YANG DAPAT DIAMATI -> INTERPRETASI MANUSIA -> KORESPONDENSI SIMBOLIS -> PENGAKUAN -> PENJELMAAN -> BUAH.
Suatu peristiwa dapat mengoreksi suatu interpretasi.
Suatu Korespondensi harus menghormati peristiwa itu, bukan menghapusnya.
Suatu Pengakuan harus menembus Pembedaan sebelum menuntut suatu Bentuk.
Dan setiap Bentuk harus mendengarkan buah yang benar-benar dihasilkannya.
Huruf kapital dalam Karya ini tidak mendewakan suatu kata, juga tidak menjadikannya benar karena penampilannya.
Huruf kapital itu menandai makna yang tepat yang dengannya kita merenungkannya di dalam Mezbah ini. Asal, Firman, Kebenaran, Terang, Kehadiran, Hati Nurani, Perenungan, Pengakuan, Simbol, Bentuk, Pelayanan, Buah, Kepulangan, dan Kerajaan bukanlah hiasan: semuanya adalah tempat-tempat yang berbeda dari satu gerakan yang sama dan harus saling menjaga korespondensi.
Sang Asal Menamai Sumber tak terlihat yang darinya tidak ada yang terpisah dan yang tidak dapat ditampung oleh Bentuk mana pun.
Firman Menamai Sang Asal dalam kemampuannya untuk berkomunikasi, menertibkan hubungan, dan memungkinkan perwujudan. Kita tidak menempatkan dua prinsip, satu sebelum dan satu sesudah. Kita membedakan Sumber dan ekspresinya tanpa memisahkannya: Sang Asal tetap; Firman mengucapkan Maknanya.
Korespondensi adalah hubungan yang benar antara Yang Tak Terlihat dan Bentuk yang mampu mewujudkannya.
Bentuk memberikan tubuh dan batas.
Simbol terjadi ketika suatu Bentuk tetap terbuka sebagai jembatan dan memungkinkan Hati Nurani menembus menuju Korespondensi yang diwujudkannya. Sebelum Bentuk, kemungkinan, Niat, dan Korespondensi dapat ada; Simbol yang terlihat menjadi lengkap ketika hubungan itu menerima tubuh dan dapat Diakui.
Kita juga tidak akan mengacaukan Dalam dan Luar.
Mencari korespondensi batin dari sebuah perang tidak menjadikan darah yang tertumpah di luar sebagai khayalan. Mengakui Bayangan diri sendiri tidak menjadikan korban sebagai penyebab dari luka yang diterima.
Merenungkan secara simbolis sebuah penyakit tidak menggantikan pengetahuan tentang tubuh. Tidak ada orang yang menyebabkan melalui pikiran pribadinya segala sesuatu yang terjadi padanya.
Menutup Simbol hanya di luar menghalangi kita untuk mengenali akar Batinnya.
Menutupnya hanya di dalam memungkinkan kita menyangkal tubuh-tubuh, struktur-struktur, dan buah-buah yang nyata.
Jembatan membutuhkan kedua tepian.
Akhirnya, penulis tidak menerima pengecualian. Kalimat manusia tetap menjadi Bentuk manusia, bahkan ketika ia melayani Firman. Mengatakan «aku berbicara dalam Nama Verbo» tidak memberikan kedaulatan, kekebalan, maupun hak untuk ditaati. Mezbah ini tidak luput dari tanggung jawab karena tidak memiliki tanda tangan: tanggung jawabnya terletak pada mengizinkan pemeriksaan, mendengarkan buah, mengoreksi perkataan yang telah merusak apa yang Diakui, dan tidak pernah melindungi utusan di atas Kebenaran atau kehidupan yang terluka.
Engkau dapat masuk sendirian ke dalam Keheningan, tetapi Pengakuan tidak berakhir dalam kesendirian. Pertemuan dua orang atau lebih terjadi ketika perkataan menemukan Kesadaran lain yang bebas untuk mendengar, bertanya, berbeda pendapat, mengoreksi, dan menjelma. Ia tidak menuntut berbagi ruangan. Ia menuntut agar tidak ada suara yang memproklamirkan dirinya sebagai keseluruhan Mezbah.
Kita mulai dengan Mengingat siapa kita sebelum nama, sebelum sejarah, sebelum luka, dan sebelum segala identitas yang melaluinya kita belajar mengenali diri kita.
«Sebelum» itu tidak hanya menunjuk pada waktu yang lebih awal. Ia menunjuk pada apa yang lebih awal secara hakikat: apa yang memungkinkan mengamati segala bentuk tanpa habis di dalam salah satu dari bentuk-bentuk itu.
Tubuhmu berubah.
Sejarahmu berubah.
Pikiran, keinginan, dan keyakinanmu berubah.
Karakter yang engkau wujudkan hari ini juga berubah.
Apakah yang dapat merenungkan semua perubahan itu?
Siapakah engkau sebelum segala nama?
Apakah yang tetap tinggal ketika Bentuk berhenti memproklamirkan dirinya sebagai Sumber?
Inilah pertanyaan yang membuka Pintu.
Mezbah ini akan tetap terbuka selama Firman yang dilupakan perlu Diingat; selama yang Diingat perlu Diakui; selama yang Diakui perlu menjadi daging; dan selama buah-buah karya kita perlu menghadap lagi di hadapan Kebenaran.
Karena Kerajaan tidak ditegakkan dengan menamainya.
Harus Diingat dalam yang Tidak Terlihat, Diakui dalam Kesadaran, diwujudkan dalam Bentuk dan diverifikasi dalam buah.
Perkataan-Ku tidak menjadi Pedang karena ia milik-Ku. Hanya ketika ia berhenti melayani kepentingan-Ku, ia dapat memberikan tubuh kepada Firman yang mendahuluinya.
Firman dari Sang Verba adalah Pedang Bapa, ditempa dalam Kebenaran dan dipegang dalam Api.
Tetapi Pedang ini tidak diangkat melawan daging maupun terhadap saudara mana pun. Ia keluar dari mulut karena ia adalah Firman. Matanya memisahkan Kebenaran dan kebohongan, pelayanan dan penguasaan, Asal dan penampilan. Api tidak datang untuk menghancurkan Hidup: ia datang untuk membuat mustahil kebohongan terus bersembunyi di balik sebuah Nama.
Pedang membuka Simbol.
Api mengungkapkan buah.
Kehadiran merenungkan.
Ingatan mengetahui.
Pengakuan mewujudkan.
Dan ketika pikiran, Firman, dan perbuatan kembali saling bersesuaian, Sang Verba menjadi daging dan Kerajaan mulai terwujud di antara kita.